Langsung ke konten utama

Wahai para generasi Milenial Jangan hanya kritik untuk membungkam rezim, tetapi perlu di ingat apa yang sudah kamu buat.



Wahai para generasi Milenial Jangan hanya kritik untuk membungkam rezim, tetapi perlu di ingat apa yang sudah kamu buat.


Pada era globalisasi saat ini, tidaklah mudah untuk mendobrak rezim saat ini. Otoriter kian merajalela, dan masyarakat kecil pun dibungkam dengan segala bentuk aturan yg membuat tak berkutik. Seakan hukum menjadi momok yang menakutkan untuk teggakkan.


Kaum kapitalisme semakin tak terbendung, dengan seribu satu caranya untuk menghipnotis pikiran rakyatnya agar diam seribu bahasa. Mau sampai kapankah kebiasaan dan tingkah laku ini dirubah. Lantas siapakah yang harus berdiri kokoh dan bertahan dgn paham demokrasi yang kita anut saat ini.


Ya sekarang eranya kaum milenial. Pemuda Milenial rupanya sosok yang tepat untuk mendobrak ketidakadilan ini. Rupanya sila kelima Pancasila yaitu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia belum begitu muncul disetiap penjuru negeri.


Namun ada satu hal yang perlu di garis bawahi bahwa, rupanya kritikan saja tidaklah cukup. Ada segelintir orang yang Mengapresiasi dan ada juga sekelompok orang yang tidak menyetujui. Mengapa ?

Karena ada yang beranggapan bahwa kritik itu relatif tetapi sebelum mengkritisi ada pula pertanyaan yang menyayat hati "apa yang sudah anda buat"?


Rupanya pertanyaan ini direnungkan bersama wahai para pemuda Milenial.


Ya ulasan singkat ini merupakan salah satu hal yang harus direnungkan oleh kita semua untuk mencari jawaban dari sila kelima Pancasila.


Penulis/Editor : Dius Tefa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Prestise Dan melestarikan Kearifan Lokal

Dalam menghadapi era globalisasi dapat menimbulkan perubahan pola hidup masyarakat yang lebih modern.  Akibatnya, masyarakat cenderung untuk memilih kebudayaan baru yang dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal. Salah satu faktor yang menyebabkan budaya lokal dilupakan dimasa sekarang adalah : kurangnya generasi penerus yang memiliki minat untuk belajar dan mewarisi kebudayaanny sendiri.  Kebudayaan lokal NTT adalah : tambang emas dunia kepariwisataan karena hal tersebut sudah terbukti dibeberapa daerah lainnya yang sukses membangun kepariwisataannya dengan suguhan utama adalah kebudayaan lokal yang dimiliki masyarakat.  Salah satunya adalah tradisi atau budaya menenun atau "Tenun". Tentunya menenun sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari bagi kaum perempuan atau mama-mama di daratan Timor pada umumnya. Ini merupakan salah satu kearifan lokal NTT yang patut dijaga dan atau di kembangkan oleh generasi muda. Agar kemudian budaya ini tidak ditelan ol...

Ketua Umum Dan Pelaksana Tugas Harian, Ikatan Mahasiswa Dawan R, (IMADAR) Kefamenanu, Periode 2021/2022, Resmi Dikukuhkan Oleh Wakil Bupati Malaka

  Ketua Umum Dan Pelaksana Tugas Harian, Ikatan Mahasiswa Dawan R, (IMADAR)  Kefamenanu, Periode 2021/2022 , Resmi Dikukuhkan Oleh Wakil Bupati Malaka. Sabtu, 16/10/2021, Kegiatan pelantikan ketua umum dan pelaksana tugas harian IMADAR (Ikatan Mahasiswa Dawan R) resmi dibuka dengan tarian bidu khas malaka, yang berlangsung di Gedung Golkar Kefamenanu. Turut hadir dalam rangka Kegiatan pelantikan Ketua umum dan pelaksana tugas harian Ikatan Mahasiswa Dawan R, Wakil bupati Malaka, Louise Lucky Taolin S.Sos sebagai Pelindung IMADAR, para senior IMADAR (FORSA IMADAR), Fredy Seran, Sebagai Anggota DPRD Kabupaten Malaka, dan  juga organisasi-organisasi yang tergabung dalam naungan cipayung, dan beberapa organisasi lokal lainnya, yang berada di TTU. Sebagai pembuka Ketua Umum terpilih Anastasia Maria Ikun, dalam sekapur sirih-nya, mengungkapkan sebuah makna yang sangat mendalam, yaitu "sentuhlah hati orang lain sebelum menyuruh mereka melakukan sesuatu". Yang artinya bahwa ...

Dengarlah Wahai Penguasa

  "TERLALU PAHIT UNTUK DILUPAKAN, TERLALU SEDIH DIKENANGKAN". Ya ungkapan ini pantas disematkan untuk para diktator maupun otoriter saat ini. Sesungguhnya Ini kurang pantas untuk diucap, dan amatlah sakit  ditelinga, kala di dengar. Namun ini merupakan julukan yang di pantas kepada mereka. Bagaimana tidak, Sebelum menuju singgasana dan kursi empuk, mereka selalu menghalalkan segala cara untuk untuk memuluskan jalan mencapai tujuan yang mereka angankan. Ya, masyarakat kecil dimadu, dengan retorika licik yang penuh dengan tipu muslihat, berkoar-koar untuk menumpaskan para diktator, yang tidak pro rakyat, berjanji akan menumpaskan para tikus berdasi, tetapi realitanya sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi saat ini. Setelah mendapatkan tujuan, mereka seolah-olah menjadi orang bisu dan tuli. Bisu seakan-akan mereka tidak pernah mengucapkan janji manisnya, dan seolah menjadi orang tuli yang tidak pernah mendengar aspirasi dari masyarakat kecil, saat sekarang. Masa seka...